اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِ ٍسَيِّدِنَا مُحَمَّد ***** إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Rabu, 23 Februari 2011

Syekh Abdul Qodir jaelani


Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al- Jailani Rahimahullah, (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani ). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M kota Baghdad sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani.
Biografi beliau dimuat dalam:
Kitab dz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali.
Kelahiran, Silsilah dan Nasab Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal
kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul
Qodir al-Jilani. Riwayat pertama yaitu bahwa
ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H.
Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama[1].
Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-
Murtadha r.a ,melalui ayahnya sepanjang 14
generasi dan melaui ibunya sepanjang 12
generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami
rah.a memberikan komentar mengenai asal
usul al-Ghauts al-A'zham r.a sebagi berikut :
"Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang
dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia
mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua
orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu" [1].
Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut : Dari Ayahnya(Hasani) [1]:
Syeh Abdul Qodir bin Abu Samih Musa bin Abu
Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad
bin Dawud bin Musa Tsani Abdullah Tsani bin
Musa al-Jaun Abdul Mahdhi bin Hasan al-
Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW Dari ibunya(Husaini) [1] :
Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum'i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul 'Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala'uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al- Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib , Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW Masa Muda Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M.
Karena tidak diterima belajar diMadrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali.
Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra dan juga Abu Sa'ad al Muharrimi. Belaiu menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani.
Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang
bertaubat setelah mendengar nasihat beliau.
Banyak pula orang yang bersimpati kepada
beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah
beliau hingga sekolah itu tidak mampu
menampung lagi. Murid-Murid Murid-murid beliau banyak yang menjadi
ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani
yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi
Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal al Mughni. Perkataan Ulama tentang Beliau Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal
bersama beliau selama satu bulan sembilan hari .
Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai
beliau meninggal dunia. (Siyar A ’lamin Nubala XX/442). Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang
Syeikh Abdul Qadir menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir
masa kehidupannya.
Ia menempatkan kami
di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap
kami. Kadang beliau mengutus putra beliau
yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami.
Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu .” Beliau adalah seorang yang berilmu,
beraqidah Ahlu Sunnah, dan mengikuti jalan Salaf al Shalih. Belaiau dikenal pula banyak memiliki karamah.
Tetapi, banyak (pula)
orang yang membuat-buat kedustaan atas
nama beliau.
Kedustaan itu baik berupa
kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-
ajaran, tariqah (tarekat/jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui
dari pendapat Imam Ibnu Rajab. Tentang Karamahnya Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang
yang diagungkan pada masanya.
Diagungkan
oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia
banyak memiliki keutamaan dan karamah.
Tetapi, ada seorang yang bernama al
Muqri ’ Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin
Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang
mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-
keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani
dalam tiga jilid kitab. Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia
dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan
Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah
menulis perkara-perkara yang aneh dan
besar (kebohongannya). "Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia
menceritakan yang dia dengar", demikian
kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat
sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak
tentram untuk berpegang dengannya,
sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang
telah masyhur dan terkenal dari selain kitab
ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat
dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga
terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal , kesesatan-kesesatan , dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil
tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul
Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas
dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al
Jailani rahimahullah." Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal
Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja ’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang
ulama bermadzhab Syafi ’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya ’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi
beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad
Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al
Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi
sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah
yang diriwayatkannya dalam kitab ini. (Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil
Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh
Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit
Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Karya Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki
pemahaman yang bagus dalam masalah
tauhid, sifat-sifat Allah , takdir , dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah." Karya karyanya [1] : 1. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, 2. Futuhul Ghaib. 3. Al-Fath ar-Rabbani 4. Jala' al-Khawathir 5. Sirr al-Asrar 6. Malfuzhat 7. Khamsata "Asyara Maktuban Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang
berkaitan dengan nasihat dari majelis-
majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat,
takdir dan lainnya, ia berpegang dengan
sunnah.
Ia membantah dengan keras
terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah. Ajaran-ajaranya Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia
seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi
guru besar madzhab ini pada masa hidup
beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam
Siyar A ’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, ”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat
tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang
telah bertaubat. ” Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-
perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh
Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga
memberikan kesan seakan-akan beliau
mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian
mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung.

Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap
sebagian perkataannya dan Allah
menjanjikan (ampunan atas kesalahan-
kesalahan orang beriman ). Namun sebagian
perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang
riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak
kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani, dan banyak di antara riwayat-
riwayat itu yang tidak benar bahkan ada
yang mustahil terjadi “. Syeikh Rabi ’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidahnya ( Syeikh
Abdul Qadir Al Jaelani ) di dalam kitabnya
yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-
Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui
bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia
menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj
Salaf. Ia juga membantah kelompok-
kelompok Syi ’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya
dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya
Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi,
Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa ’dah 1415 H / 8 April 1995 M.) Awal Kemasyhuran Al-Jaba ’i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat
dalam dadaku timbul keinginan yang kuat
untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku
merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan
ketika berbicara, aku tidak dapat
menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku.
Kemudian mereka mengabarkan apa yang
aku ucapkan kepada orang-orang, dan
merekapun berduyun-duyun mendatangiku
di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke
tengah kota dan dikelilingi dengan lampu.
Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut. Kemudian, aku
dibawa ke luar kota dan ditempatkan di
sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap
datang kepadaku, dengan mengendarai kuda , unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70
orang para wali radhiallahu 'anhum]]. Kemudian, Syeikh Abdul Qadir melanjutkan,
“Aku melihat Rasulallah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, "anakku, mengapa engkau tidak berbicara?". Aku
menjawab, "Ayahku, bagaimana aku yang
non arab ini berbicara di depan orang-orang
fasih dari Baghdad?".
Ia berkata, "buka
mulutmu". Lalu, beliau meniup 7 kali ke
dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik ”. Setelah itu, aku salat dzuhur dan duduk serta
mendapati jumlah yang sangat luar biasa
banyaknya sehingga membuatku gemetar.
Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, "buka mulutmu".
Ia lalu meniup 6
kali ke dalam mulutku dan ketika aku
bertanya kepadanya mengapa beliau tidak
meniup 7 kali seperti yang dilakukan
Rasulallah SAW, beliau menjawab bahwa
beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rasulallah SAW. Kemudian,
aku berkata, "Pikiran, sang penyelam yang
mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke
pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo,
kemudian dibeli dengan permata ketaatan
dalam rumah yang diizinkan Allah untuk
diangkat ”
. Ia kemudian menyitir, "Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria
dapat membunuh dirinya dan menjadikan
maut dan siksaan sebagai sesuatu yang
manis." Dalam beberapa manuskrip didapatkan
bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata,
”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke
Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku
pun ke Baghdad dan menemukan para
penduduknya dalam kondisi yang tidak aku
sukai dan karena itulah aku tidak jadi
mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan
manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa
hubungan mereka dengan keselamatan
agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali
(ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu. Aku pun membuat 70 perjanjian dengan
Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang
pun yang menentangku dan tidak ada
seorang muridku yang meninggal kecuali
dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku
kembali ke Baghdad dan mulai berceramah. Beberapa Kejadian Penting Suatu ketika, saat aku berceramah aku
melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. "Apa ini dan ada apa?"
tanyaku. "Rasulallah SAW akan datang
menemuimu untuk memberikan selamat"
jawab sebuah suara. Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam
kondisi spiritual yang membuatku setengah
sadar. Lalu, aku melihat Rasulallah SAW di
depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, "Wahai Abdul Qadir". Begitu
gembiranya aku dengan kedatangan
Rasulullah SAW, aku melangkah naik ke
udara menghampirinya. Ia meniup ke dalam
mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan
meniup ke dalam mulutku 3 kali. "Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang
dilakukan Rasulallah SAW?" tanyaku
kepadanya. "Sebagai rasa hormatku kepada
Rasalullah SAW" jawab beliau. Rasulallah SAW kemudian memakaikan jubah
kehormatan kepadaku. "apa ini?" tanyaku.
"Ini" jawab Rasulallah, "adalah jubah
kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-
orang yang mendapat derajad Qutb dalam
jenjang kewalian". Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah. Saat Nabi Khidir As. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan
kepada para wali sebelumku, Allah
membukakan rahasianya dan apa yang akan
dikatakannya kepadaku. Aku berkata
kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, "Engkau tidak akan sabar
kepadaku", aku akan berkata kepadamu,
"Engkau tidak akan sabar kepadaku". "Wahai
Khidir, Engkau termasuk golongan Israel
sedangkan aku termasuk golongan
Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan,
yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus. ” Al-Khattab pelayan Syeikh Abdul Qadir
meriwayatkan bahwa suatu hari ketika
beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau
berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan
oleh kaum Muhammad ” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal
tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir As lewat dan aku pun berbicara
kepadanya seperti yang kalian dengar tadi
dan ia berhenti ”. Hubungan Guru dan Murid Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai
puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter
berikut ini telah mendarah daging dalam
dirinya. 1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi
seorang yang sattar (menutup aib) dan
ghaffar (pemaaf). 2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu
penyayang dan lembut. 3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya. 4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar. 5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur. 6. Dua karakter dari Ali yaitu alim ( cerdas / intelek) dan pemberani. Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas
dalam bait syair yang dinisbatkan
kepadanya dikatakan: Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri
seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan. Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu,
lemah lembut kepada si miskin, mengawasi
para muridnya sedang ia selalu merasa
diawasi oleh Allah. Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa
Syeikh al Junaid mengajarkan standar al
Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai
seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al
Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits,
dia tidak pantas untuk diikuti. Ali ra. bertanya kepada Rasulallah SAW,
"Wahai Rasulullah, jalan manakah yang
terdekat untuk sampai kepada Allah, paling
mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi-Nya. Rasulallah berkata, "Ali, hendaknya
jangan putus berzikir (mengingat) kepada
Allah dalam khalwat (kontemplasinya)".
Kemudian, Ali ra. kembali berkata, "Hanya
demikiankah fadhilah zikir, sedangkan
semua orang berzikir". Rasulullah berkata, "Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak
akan terjadi di muka bumi ini selama masih
ada orang yang mengucapkan 'Allah', 'Allah'.
"Bagaimana aku berzikir?" tanya Ali.
Rasulallah bersabda, "Dengarkan apa yang
aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan
mendengarkan engkau mengulanginya
sebanyak tiga kali pula". Lalu, Rasulallah
berkata, “Laa Ilaaha Illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara
keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali
dengan cara yang sama seperti yang
Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat
Laa Ilaaha Illallah. Semoga Allah
memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut. Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu
yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah
kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat
menghadapi sakaratul maut ”. Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu
mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai
yang enak diulang dan diucapkan (kalimat
tauhid) jangan engkau lupakan aku saat
perpisahan (maut). Pada tahun 521 H/ 1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada
masyarakat sampai dikenal masyarakat
luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir
menghabiskan waktunya sebagai
pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh
sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad
yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya
di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab
(552-593 H/1151-1196 M), diteruskan
anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga
dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir,
Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M),
sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M. Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai
pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah . Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah
magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/ 1166 M. `

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar